02 June 2009

TATA CARA DAN JENIS-JENIS PERNIKAHAN ADAT BATAK


**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YAHOWU ****




Banyak orang yang mengatakan bahwa nikah sama orang batak sangat sulit dan banyak hal yang harus dijalani. Mungkin orang yang bukan dari keturunan orang batak bisa mengatakan hal seperti itu. Namu pada kenyataannya tidaklah demikian, karena bagi saya dan mungkin bagi orang batak mungkin mengatakan hal itu tidak benar. Memang diakui kalau biaya pernikahan tersebut sangat besar karena bagi orang batak ada 2 hal yang penting untuk diadakan upacaranya. Yaitu, adat pernikahan dan juga adat untuk memakamkan orang tua yang sudah meninggal. Ya sudah lah yang penting kali ini saya akan menceritakan bagaimana sebenarnya pernikahan adat orang batak dan jenis-jenis pernikahan orang batak mungkin dapat memperluas wawasan anda tentang budaya nusantara terutama tentang pernikahan adat orang batak.

Yang merupakan bagian pertama yang akan saya ceritakan tentang tata cara atau urutan pernikahan orang batak. Antara lain :



1. Mangarisika..

Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.

2. Marhori-hori Dinding/marhusip..

Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.

3. Marhata Sinamot..

Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).

4. Pudun Sauta..

Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :

1. Kerabat marga ibu (hula-hula)

2. Kerabat marga ayah (dongan tubu)

3. Anggota marga menantu (boru)

4. Pengetuai (orang-orang tua)/pariban

5. Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon.
5. Martumpol (baca : martuppol)
Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).

6. Martonggo Raja atau Maria Raja.

Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :
Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis
Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan.
Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.

7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)
8. Pesta Unjuk

Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :



1. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.

2. Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.
9. Mangihut di ampang (dialap jual)

Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.

10. Ditaruhon Jual.

Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.

11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)

1. Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.

2. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru

12. Paulak Unea..

a. Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).
b. Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya
memulai hidup baru.

13. Manjahea.

Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.

14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)
Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok
SUMBER INFORMASI



Yang merupakan bagian kedua adalah jenis-jenis pernikahan orang batak yang masih dianggap sah secara adat. Antara lain :



1. Kawin Lari atas kesepakatan bersama(Mangalua) .
Kawin lari atau Mangalua atas kesepakatan kedua calon mempelai sangat sering terjadi. kasus ini timbul karena orang tua tidak merestui si pemuda atau si pemudi pilihan anaknya.

2. Kawin Lari dengan paksa(Mangabing Boru).
Jika seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang gadis, tetapi lamarannya ditolak secara sepihak oleh orang tua, demi menutupi malu dan didorong rasa cintanya yg berapi-api, maka si pemuda mengajak beberapa orang temannya untuk menculik si gadis dan membawa si gadis kerumahnya utk dijadikan istri. perbuatan ini dianggap pelanggaran susila ttp masih ada jalan terbuka untuk perundingan.

3.Perkawinan atas desakan si gadis(Mahuempe/ Mahiturun) .
Bentuk perkawinan mahuempe terjadi bila si gadis pergi menemui si pemuda atas prakarsa dan kemauannya sendiri. biasanya si gadis ditemani oleh beberapa temannya mendatangi si pemuda dan mendesak agar perkawinan segera dilaksanakan. Mahiturun adalah perkawinan yg hampir sama dengan mahuempe, bedanya dalam mahiturun si pemudi jauh lebih aktif dan agresif dibanding mahuempe.

4.Perkawinan untuk menggantikan istri yg meninggal(Panoroni) .
Jika seorang istri meninggal dan mempunyai beberapa anak yg masih kecil2, timbul masalah siapa yg akan mengasuhnya nanti. Dalam hal ini si Duda dapat meminta kepada orang tua si istri(parboru) untuk mencarikan pengganti istri yg sudah tiada.


5.Perkawinan karena suami meninggal(Singkat Rere).
Jika seorang suami meninggal,maka akan timbul masalah bagi si janda untuk penghidupannya di kemudian hari dan jika si janda masih sehat dan masih mampu memberikan keturunan dan tidak keberatan untuk kawin lagi maka yg pertama harus dipertimbangkan menjadi calon suaminya ialah adik laki-laki dari si suami yg meninggal,atas dasar ‘ganti tikar’(singkat rere). Kalau pria yg mengawini si janda ialah adik atau abang kandung si suami atau saudara semarga yg sangat dekat dgn almarhum, maka istilah perkawinannya disebut pagodanghon atau pareakkon.

6.Bigami atau Poligami (Marimbang, Tungkot).
Jaman dulu banyak lelaki yg malakukan poligami dengan alasan mengapa mereka mengambil istri kedua atau lebih, sebagian menyatakan untuk memperoleh keturunan yaitu karena masih belum mendapatkan keturunan laki-laki. tetapi ada juga yg bermaksud memperbesar kekeluargaan dgn tujuan meningkatkan kesejahteraaan atau disebut pabidang panggagatan(melebarkan lapangan tempat merumput). Dalam kasus perkawinan bigami(marsidua- dua) kedudukan istri kedua sangat seimbang dengan istri pertama, sebab itu disebut marimbang. atau yg lain yaitu si istri pertama memilih istri kedua dari kalangan keluarga terdekat dan disebut tungkot(tongkat) .

7.Perkawinan sebagai agunan utang(Parumaen di losung).
perkawinan ini ialah perkawinan yg menggunakan anak gadis sebagai agunan utang si bapak dari si gadis tsb. jika seorang bapak mempunyai utang pd seseorang dan belum mampu melunasinya, maka sebagai agunan utangnya dia menyerahkan anak gadisnya utk dipertunangkan kepada anak si pemberi utang.

8.Perkawinan menumpang pada mertua(Marsonduk Hela).
Perkawinan marsonduk hela hampir sama dgn perkawinan biasa, tetapi karena mas kawin(sinamot) yg harus diserahkan kurang, maka diputuskan si laki-laki itu menjadi menantunya dan dia akan tinggal bersama mertuanya untuk membantu segala pekerjaan dari mulai pekerjaan rumah sampai sawah. Pihak sinonduk hela(menantu) tidak seumur hidup harus tinggal berasama mertuanya, jika keadaan sudah memungkinkan dia dapat pindah di rumahnya sendiri.

9.Perkawinan setelah digauli paksa(Manggogoi) .
Jika laki-laki menggauli perempuan secara paksa(manggogoi) ada dua hal yg mungkin terjadi. jika perempuan tidak mengenal pria tersebut dan tidak bersedia dikawinkan maka pria tsb dinamakan pelanggar susila hukumannya ialah hukuman mati. tetapi jika si perempuan bersedia melanjutkan kasusnya ke arah perkawinan yg resmi ,maka prosedurnya sama dgn mangabing boru.

10.Pertunangan anak-anak(Dipaoroho n).
Pertunangan anak-anak pd jaman dahulu bukanlah hal yg aneh, hal ini sering dilakukan oleh raja-raja dahulu. beberapa alasan mempertunangkan anak-anak: hubungan persahabatan/ kekeluargaan, seseorang tidak mampu membayar utang kepada pemberi utang, dll.
SUMBER INFORMASI




12 comments:

gusti&hana said...

kayaknya susah n berat tuh...,apa bs dengan cara umum aja,biar simple n praktis?, n jg irit biaya...

apa hrs klo merrid sm orang batak pake adat gitu?,klo gak pke gmna?,boleh gak?, misal cuma pemberkatan aja n pesta?

TRIMATRA said...

sakit matakuh,,habis backgroundnya pink sih.
ah...gapapa, masih ada kacamat ini kok.

wedew,,,susah klo nikahnya gituh, repoot biaya :D

renato said...

buat gusti...

yach itu sudah menjadi suatu keharusan bro... soalnya orang batak adat sangat menjunjung tinggi nilai leluhur mereka. yach sama seperti adat jawa. yach kalo ngga mau biaya mahal seh bisa ja.... tapi asal ada kesepakatan bersma antar dua keluarga yang hendak menikah... kalo ngga pake ada batak buat nikah itu namanya bukan orang batak bro...jadi harus bisa saling menghargai bro... OK....

SALAM BUDAYA

renato said...

buat trimatra...

nah... masalah warna pink kan ngga jadi masalah bro... yang penting kita tetap terus memajukan pariwisata nusantara dan aku memajukan pariwisata sumatera utara... gitu lho bro... hehehe....

SALAM BUDAYA...

Merry said...

hahahah udah mulai cari2 cara pernikahan nih....??? apa udah ada rencana yah To? apa malahan udah tahap persiapan nih???

komplit banget infonya, tapi ga semuanya harus dilewati lho??? semua trgantung kesepakatan 2 belah pihak loh...:)

Merry said...

koment buat gusti juga yah: pemberkatan n pesta aja sih boleh aja tapi buat orang batak adat itu adalah utang, kalo ga dilaksanakan sekwaktu pemberkatan, maka akan menjadi utang buat pengantin kelak, jadi sampai kapan pun harus tetap dibayar/ dilakukan.

renato said...

betul kali itu ka... hahaha... gimana mantap kan...
yach iyalah...
hahaha...

Hakimtea said...

tiap daerah berbeda buadayanya dalam upacara sakral pernikahan ya.

Ikut kampanye mari Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang ya :)

Agus Amar Mizwar said...

Salam Blogger Indonesia, blogwalking ya... dan sukses selalu untuk Anda!
jabat tangan erat salam penuh damai!

Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang

jvbamt said...

salam kenal sebelumnya..
aku bukan keturunan dari orang batak tetapi bulan mei ini akan menikah dengan lelaki batak. dan bln april ini rencana mw diberikan marga.
yang aku mw mempertanyakan :
* klo menikah adat batak, bisa tdk menggunakan bahasa indonesia?
* bisa ga pada saat pemberkatan di gereja menggunakan slayer panjang (impian cewe klo married)
* aku kan non batak,, diberi marga jadi batak.. nah, pada saat married nnti peran orang tua kandung aku tetap ada seperti orang menikah biasa kan?

abang,, kasih aku masukan and "persiapan" soalnya aku dan cowo aku itu sama2 anak per-1 ..

thx and GBu Brother
need u answer..

renato said...

to: jvbamt

HORAS buat saudariku yang mungkin akan menjadi orang batak. Salam kenal juga.

Baiklah saudariku, aku akan menjawab pertanyaan kamu.
jawaban:
1. Dalam pernikahan adat batak ada kemungkinan tidak bisa menggunakan
bahasa indonesia, karena orang batak banyak juga yang tidak bisa atau
kurang lancar menggunakan bahasa Indonesia. Namun ada baiknya ntar
calon suami kamu yang memberikan penjelasan. Bila saudariku nantinya
dalam adat pernikahan orang batak ada yang kurang dimengerti, silahkan
tanya aja langsung ama calon mertua kamu apa maksudnya.
2.Mungkin dalam acara pemberkatan nikah di gereja nanti bisa
menggunakan slayer seperti impian wanita. tapi bila selesai acara
pemberkatan nikah harus tetap menggunakan pakaian adat orang batak.
karena itu juga sudah tradisi. Namun ada baiknya bila mnggunakan
pakaian adat batak aja saat acara pemberkatan nikah di gereja,karena
biasanya selesai acara pemberkatan langsung ke acara adat, jadi tidak
ada waktu berganti pakian dan dandanan lagi.
3. Pengertian marga bukan berarti peran orang tua kamu menjadi tidak
berarti lagi. pemberian marga hanya sebagai tanda bahwa kamu sudah
menjadi bagian keluarga orang batak. jadi ngga usah takut saudariku,
orang batak tidak kejam kok. hehehehe.... buktinya masih ada yang baek
kayak aku.... hahahaha....

pesan aku buat kamu nantinya:
*bila nantinya kamu sudah menikah orang batak, hendaklah menjadi istri
orang batak yang diharapkan. kalo kamu pingin tau silahkan tanya aja
ama calon mertua kamu bagaimana cara menjadi istri orang batak yang
baik.
*bila nantinya sudah menikah dan sudah bagian dari keluarga batak,
hendaknya tau sedikit mengenai "partuturan ato tarombo"(dalam bahasa
batak) atau dalam bahasa indonesia silsilah marga kamu nantinya dengan
marga keluarga orang batak, tanya lebih lengkap ama calon mertua aja
deh. karena bisa menjadi pendekatan yang lebih sempurna kepada calon
mertua kamu nantinya.

sekian dulu yach....
selamat dech dari aku untuk pertama kalinya.maap bila ada kata yang
kurang berkenan.

HORAS, SYAHLOM, TUHAN MEMBERKATI.

me,

RENATO BASTIAN MANURUNG

bila masih kurang jelas, silahkan hubungi saya di :
HP: 081265882864
EMAIL : renato.bastian45@gmail.com

Poker Coach said...

Rather valuable message