---- SAVE TOBA LAKE ---- HORAS ---- MEJUAH - JUAH ---- NJUAH - JUAH ---- YA'AHOWU ---- SELAMAT DATANG DI BLOG WISATA ALAM DANAU TOBA ---- Dalam hari bumi sedunia, ayo lindungi bumi kita dari bahaya yang mengancamnya. Mari kita bersama - sama untuk menanam pohon, cegah efek rumah kaca, stop pembalakan liar, hemat energi bumi, stop pembuangan limbah ke dalam aliran sungai. Selamatkan bumi kita dari pemanasan global ---- Ayo saudaraku, dukung terus pariwisata Sumatera Utara. Mari berperan dalam mempromosikan wisata danau Toba dan wisata lainnya yang ada di Sumatera Utara ---- jika anda pingin tukeran link,silahkan add duluan link aku.Lalu konfirmasi melalui shoutmix di blog ini.Nanti akan saya add balik link anda.Terimahkasih sebelumnya ---- Bila anda ingin berkunjung ketempat objek wisata alam danau TOBA dan sekitarnya namun anda tidak mempunyai sanak-saudara di sumatera utara untuk tempat anda singgahi, saya dapat membantu anda untuk mencari penginapan sesuai dengan badget anda dan orang yang bisa memandu anda di sana nantinya, hubungi saya melalui email : renato.bastian45@gmail.com ---- Bagi anda yang ingin dibantu dalam mengiklankan produknya di blog ini, segera hubungi saya di email : renato.bastian45@gmail.com, saya akan bantu anda untuk mengiklankan produk anda di blog ini seperti iklan yang ada pada blog ini. Bagi saudara-saudaraku yang berasal dari tano bona pasogit, bila anda mempunyai informasi terbaru tentang seputar danau toba dan objek wisata yang lain di sumatera utara, segera kirimkan informasi anda melalui email : renato.bastian45@gmail.com, informasi anda sangat dibutuhkan dalam mempromosikan pariwisata sumatera utara. ---- SAVE TOBA LAKE ----

10 November 2010

KADIS PARIWISATA SIMALUNGUN DUKUNG PENGEMBANGAN OBYEK WISATA DANAU TOBA

**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****

Dalam rangka peningkatan pengembangan obyek wisata Danau Toba,Kabupaten Samosir, Tobasa, Simalungun, Karo, Dairi, Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbahas harus berbenah diri terutama Kepala Dinas Pariwisatanya. Masing-masing Kadis Pariwisata Kabupaten tersebut harus membuat program untuk peningkatan wisata dengan “menjual Danau Toba”. Demikian Drs Karsel Sitanggang, Kadis Parawisata Kabupaten Simalungun ketika dihubungin SIB, Jumat lalu.
Menurut, Karsel Sitanggang,dia sudah membuat proposal sebelumnya dan sudah diajukan ke provinsi, untuk peningkatan kunjungan wisatawan di kawasan Danau Toba Kabupaten Simalungun antara lain Haranggaol,Tigarunggu,Dolok Simarjarunjung,Tanjung Unta, Sipolha, dan Parapat.
Daerah tersebut dikunjungi wisatawan yang datang dari Medan menuju Tapanuli terus ke Sibolga dan Nias,tambah Drs Karsel Sitanggang. Khusus di Simalungun,kota kecil Haranggaol terletak di teluk indah tempat mengginap. Tidak jauh dari Haranggaol, ada bangunan rumah peninggalan raja-raja Simalungun di Rumah Balon Tigarunggu yang disenangi wisatawan.
Selain itu, tempat istirahat wisatawan yang kelelahan dari Medan menuju Parapat adalah Dolok Simarjarunjung bukit indah yang diseberangnya tampak Pulau Samosir. Selanjutnya Tanjung Unta yang seperti untas tidur di Danau Toba dan tempat membaca buku di restaurant berbentuk ikan mas di Sipolha,ini sudah kita usulkan segera dibenahi oleh pemerintah daerah kabupaten, provinsi yang dibantu pemerintah pusat,” imbuh Drs Karsel Sitanggang.SUMBER INFORMASI




ShareSign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

SARASEHAN MASA DEPAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NIAS, KEINDAHAN NIAS TIDAK KALAH MENARIK DAN INDAH DIBANDINGKAN PULAU DEWATA

**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****


Arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, Ketut Wiradnyana menilai, keindahan kepulauan Nias tidak kalah jauh dari Pulau Dewata Bali. Jika Nias dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin dapat menandingi Bali . “Budaya dan Pariwisata Nias tidak kalah dengan Bali,” kata Ketut Wiradnyana saat tampil sebagai pembicara pada sarasehan “Masa Depan Kebudayaan dan Pariwisata Nias” di Omo Bale Museum Pusaka Nias (YPN) Gunungsitoli, Sabtu (23/10).
Sarasehan yang diselenggarakan lembaga Futi Rai Ana’a (Furai) tersebut dihadiri sejumlah pejabat di antaranya Kadis Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Kota Gunungsitoli Yulianus Harefa Med Tesol, Kadis Perhubungan Pariwisata dan Komunikasi Informasi Nias Barat Aliziduhu Daeli SPd, Kadis Pariwisata Nias Selatan diwakili Pikiran Nehe, Penulis Kebudayaan Nias Pastor Yohanes Maria Hammerle OFM Cap, seniman muda Nias O’o Zebua, Hikayat Manao dan Dasa Manao, pengelola hotel Dian Otomasi Mario Otomasi Zebua serta para pelaku budaya dan pariwisata dan pihak terkait lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya sejak tahun 1995 hingga 2007 lanjut Ketut, Nias sudah dihuni sejak 12 ribu tahun lalu. Nenek moyang orang Nias diyakini berasal dari Asia Bagian Tengah atau Vietnam Tengah. Mereka berimigrasi dan beudaya paleolitik, yakni masa kebudayaan awal manusia.
Setelah 12 ribu tahun, kebudayaan tersebut berubah menjadi budaya Hoa Binh yakni meninggalkan hidup nomaden untuk menetap di lembah serta goa-goa dan tempat penampungan batu dekat air sungai. Mereka kemudian terus berkembang hingga tahun 1500 Masehi. Saat itu Sumatera Daratan sudah mengenal kerajaan. “Peninggalan nenek moyang orang Nias tersebutlah ditemukannya di dua goa yakni Goa Togi Ndrawa dan Goa Togi Mbogi, Nias,” ujarnya.
Dari temuan penelitian itu katanya, dapat dijadikan dasar bagi Pemkab/Pemko di Kepulauan Nias untuk mengembangkan budaya dan meningkatkan sektor pariwisata. Ia merasa yakin basah banyak peninggalan zaman dahulu di Nias yang dapat dijadikan daya tarik pariwisata, baik lokal maupun mancanegara.
Sementara, Yulianus Harefa mengatakan, pemerintah masih belum optimal dalam pengembangan budaya dan pariwisata Nias. Hal itu dikarenakan terbentur masalah anggaran Pemko Gunungsitoli terhadap instansinya untuk konsern terhadap budaya dan pariwisata yang hanya sebesar Rp 900 juta.
Padahal untuk peningkatan objek wisata yang tidak sedikit di Gunugsitoli membutuhkan anggaran yang besar. Sejumlah lokasi yang dapat dijadikan objek wisata di antaranya Goa Katawaena (disebut juga Goa Layang-layang) yang di dalamnya terdapat artefak peninggalan zaman dahulu. Selanjutnya Goa Togi Ndrawa yang diperkirakan berumur 7000 tahun. Goa di Jepang dipuncak Laverna Desa Labuhan Angin Kecamatan Gunungsitoli Barat. Di dalam goa tersebut banyak terdapat kuburan Jepang pada masa penjajahan dahulu yang dapat menarik minat wisata Jepang. Selain itu ada juga Goa Lawomaru yang ada cerita rakyat tentang masyarakat Nias, Goa So’arowiga berbentuk piring terbalik ditemukan sekira 2 tahun lalu. Sedangkan objek wisata pantai ada 10 lokasi diantaranya Pantai Malaga, Maria, Nusa Lima Laraga, Fodo, Bunda, Miga, Carita, Muara Indah dan Pantai Hoya.
Ketua Umum Lembaga FURAI, Aliozisokhi Fau menjelaskan, penyelenggaraan sarasehan itu diharapkan dapat memberikan suatu perubahan yang lebih baik bagi Kepulauan Nias ke depan. Ia menilai, dengan hasil sarasehan tersebut, lembaga Furai yang dipimpinnya akan terus berusaha untuk fokus terhadap kemajuan kebudayaan dan pariwisata Nias yang lebih baik lagi. Terlebih lagi, hasil sarasehan tersebut dapat dijadikan cikal bakal dan sebagai promosi Nias. “Sarasehan ini sebagai bentuk promosi budaya dan pariwisata Nias,” ujarnya dalam sambutan pembukaan sarasehan tersebut.
Kebudayaan dan pariwisata Nias lanjutnya memiliki potensi besar yang belum tergali dan menjadi tugas pemerintah dan masyarakat untuk lebih berperan aktif dalam pengembangan budaya dan pariwisata Nias. katanya. Mantan anggota DPRD Sumut ini menambahkan, pihaknya telah mengundang seluruh calon kepala daerah di kepulauan itu, namun tidak satupun yang hadir. Pada hal menurutnya, Furai ingin mengetahui sejauh mana program mereka tentang budaya dan pariwisata Nias nantinya. Bahkan jika ada calon yang menetapkan visi-nya “Menjadikan daerahnya menjadi dDerah Budaya dan Pariwisata “ adalah suatu hal yang luar biasa, atau minimal budaya dan pariwisata Nias menjadi salah satu skala prioritas pembangunan Nias.
Dalam kesempatan itu ia berharap para pemuda/i Nias sebagai generasi penerus lebih aktif dan peduli lagi terhadap kemajuan daerah Nias yang saat ini terdiri dari 1 kota dan 4 kabupaten. “Saya yakin, ke depannya Nias akan menjadi lebih maju lagi dan lebih dikenal, jika putra dan putri daerah mengelolanya sendiri dengan dasar dan pengetahuan yang ada,” pungkasnya.
Oleh karenanya, pemerintah di Nias katanya harus menyiapkan para pengelola budaya dan pariwisata Nias yang handal dengan cara mengirimkan putra-putra Nias menggeluti bidang pendidikan tersebut atau membuka sekolah itu di Nias serti jurusan antropologi, sekolah musik, tari, theater dan pariwisata dengan mendatangkan para guru-guru dari luar daerah. (Rel/M-14/ r)

Berfoto bersama: Arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, Ketut Wiradnyana berfoto bersama dengan Ketua Umum Lembara Furai Aliozisokhi Fau Spd, Budayawan, Hikayat Manao, Pikiran Nehe mewakili Kadis Pariwisata Nisel), Pastor Yohannes Maria Hummerle, Kadis Pariwisata Pemuda dan Olahraga Gunungsitoli Yulianus Harefa, Kadis Perhubungan Pariwisata dan Komunikasi Informasi Nias Barat Aliziduhu Daeli SPd pada acara Sarasehan Masa Depan Kebudayaan dan Pariwisata Nias, Sabtu (23/10) di Gunungsitoli.SUMBER INFORMASI




ShareSign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

01 October 2010

UNDANGAN MASYARAKAT INDONESIA DAN LUAR INDONESIA

**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****


HORAS,
Berhubung perayaan Pesta Danau Toba (PDT) akan diadakan sebentar lagi. Acara yang sungguh sangat menarik dan sayang bila anda tidak berkunjung. Acara untuk mempromosikan danau toba dan juga budaya orang batak yang diadakan sekali setahun ini akan diadakan pada tanggal 20 oktober sampai 24 oktober 2010.
Bagi anda berminat untuk datang menyaksikan pagelaran budaya batak ini, jangan ragu untuk mengunjunginya. Soal keamana sudah dilakukan langkah antisipasi untuk wisatawan yang akan berkunjung nantinya. Masalah biaya, jangan anda khawatirkan karena semua harga dijamin murah. Jadi tunggu apa lagi, segera datang dan segera saksikan keindahan Danau Toba dan pagelaran Budaya orang batak.

ShareSign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

22 September 2010

PESTA DANAU TOBA 2010 BUTUH Rp,2,5 MILIAR, DANA YANG TERSEDIA MASIH Rp. 300-an JUTA

**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****


Kalangan operator dan biro perjalanan wisata (travel-travel) di Sumut mulai menawarkan dan menjual acara Pesta Danau Toba (PDT) 2010 sebagai salah satu paket wisata pilihan ke para calon turis mancanegara, sehingga jumlah wisatawan asing yang datang ke Sumut dalam rangka PDT 2010 ini diprediksi melonjak.
Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumut, Arthur Batubara MSc, selaku Sekretaris Umum Panitia PDT 2010, bersama Wakil Ketua Association of Indonesia Travel Agency (ASITA) Sumut Clement HJ Gultom, menyatakan pihaknya masih optimis paket wisata PDT 2010 ini akan mendapat respon para calon turis asing walaupun gerakan promosi dan reservasi PDT 2010 sebagai paket wisata sebenarnya sudah terbilang terlambat bila ditinjau dari aspek transaksi wisata destinasi.
“Terlepas dari aspek waktu (terlambat atau tidak), kita senang dengan respon kalangan biro travel di daerah ini yang ternyata sudah mulai (action) menjual acara PDT 2010 ini sebagai paket wisata pilihan ke daerah ini (Sumut). Bahkan, pihak organizer Indonesia Travel & Tourism Fair (ITTF) 2010 di Jakarta sudah siap memuat info PDT 2010 nanti, sehingga para calon wisatawan mancanegara (Wisman) bisa ingat dan siap-siap datang ke PDT 2010 nanti,” ujar Arthur Batubara kepada pers di Parapat, Rabu (15/9) kemarin.
Dia mengutarakan hal itu disela-sela peninjauan lokasi PDT 2010 di Parapat, serta melakukan temu diskusi dengan sejumlah operator dan praktisi pariwisata (hotel dan agen travel) setempat sejak Selasa (14/9). Bersama ketua umum PDT 2010 Parlindungan Purba dan staf sekretariat Suriwiyanto, mereka juga membahas lebih lanjut rangkaian agenda PDT yang berlangsung pada 20-24 Oktober nanti yang total meliputi 18 sub acara pada empat acara induk. Ke-18 sub-acara itu meliputi dua acara pada sesi pra event, 2 acara di sesi Seni & Budaya, 4 Acara sesi seminar dan workshop, serta 10 acara pada sesi event wisata.
Komitmen menjual paket wisata PDT 2010 itu sebelumnya juga telah dilontarkan dalam pertemuan panitia PDT 2010 dengan sejumlah pengusaha biro travel di Medan, khususnya yang tergabung dalam Asita. Ketua Umum DPP Pusat, Ben Sukma dan Ketua BPD Asita Sumut Solahuddin Nasution SE MSP, dalam pertemuan di Hotel Danau Toba itu menyatakan para biro travel di Sumut sudah siap menawarkan dan menjual PDT 2010 ini sebagai paket wisata pilihan, asal jadwalnya tidak berubah lagi seperti tahun lalu.
“Penetapan jadwal bagi para calon Wisman ini penting. Jangan seperti tahun lalu, paket sudah ditawarkan dan para turis sudah siap datang, eee..taunya jadwal berubah, kacau jadinya…Kalau jadwal PDT ini bisa tetap dan permanen, saya siap cantumkan atau muat info PDT 2011 nanti pada agenda ITTF 2010 yang berlangsung 1-3 Oktober ini,” ujar Ben Sukma dan Solahuddin Nasution kepada pers sembari memajang poster ITTF 2010.
Hadir pada pertemuan panitia dengan pengusaha travel itu: Surya Salim dari Duta Ceria Travel, Darwin dari Eva Prima Angkasa Tour & Travel, Maruli Danamik (Lovely Holidays), Abdi Nusa Ginting (Narasa Holidays), Eddy Fernandes (Embun Pagi Travel), Liliek (Narasindo Travel), Darwis Taniwan (Appalaus Travel), Amin Sujadi dan Robert Lam (Horasindo Wisata) Aidil Atek Anwar dari Ever Prompt Travel dan Clement HJ Gultom dari Boraspati Travel, plus Ir Henry Batubara dari Sumatera Tourism Promotion Board (STPB).
Sebagian dari pengusaha travel ini juga ikut meninjau lokasi PDT 2010 di Parapat bersama Arthur Batubara dan pihak panitia. Sosialisasi program PDT 2010 di berupa penyuluhan sadar wisata untuk menyukseskan PDT 2010 dan PDT tahun berikutnya, antara lain meliputi upaya agar harga-harga produk dan jasa wisata lokal jangan naik pada saat berlangsungnya PDT 2010, tanpa harus mengurangi kualitas pelayanan kepada para wisatawan.
“PDT sebagai pesta rakyat untuk bisnis wisata, harus punya nilai plus atau keistimewaan yang bisa merangsang dan mengundang orang luar atau turis datang beruntun dan semakin banyak untuk seterusnya. Jadi, jangan karena ada Pesta Danau Toba, ongkos kapal atau bus angkot naik, harga makanan atau barang souvenir jadi lebih mahal, jasa parkir jadi lebih tinggi atau mahal, dsb. Idealnya, semua produk jasa dan barang seperti tarif kamar hotel atau makanan-minuman harus diskon untuk atau karena ada Pesta Danau Toba,” ujar Ben Sukma sembari mencontohkan harga tiket pesawat dan hotel bintang selalu melakukan diskon setiap ada acara event wisata yang berskala nasional, apalagi internasional.
Ketika ditanyakan pers kenapa para panitia PDT 2010 dari kalangan pengusaha tak pernah muncul apalagi tak menunjukkan partisipasi maupun kontribusinya hingga masa dekat hari-H, tak ada panitia yang berkomentar. Namun ketika Ben Sukma menanyakan soal dana untuk biaya PDT 2010 ini, Ketua umum Parlindungan Purba menyebutkan dana yang sudah disiapkan untuk PDT 2010 ini berkisar Rp300-an juta yang bersumber dari APBD Provinsi Sumut. Sementara, total biaya yang dibutuhkan untuk PDT 2010 ini disebut-sebut mencapai Rp2,5 miliar, termasuk biaya pertunjukan musik jazz Lake Toba World Music Jazz Festival di Medan yang mencapai Rp1,2 miliar.
“Jangan tanya soal biaya dululah…, yang jelas PDT 2010 akan launching di Jakarta pada 1 Oktober dan launching khusus di Medan pada 9 Oktober nanti. Hal terpenting adalah….kita bangga karena kota Medan tahun ini ikut mendukung PDT 2010,” ujar Parlindungan Purba, optimis.SUMBER INFORMASI




ShareSign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

01 July 2010

PESTA DANAU TOBA 2010 AKAN MENAJADI KEBANGGAAN MASYARAKAT SUMATERA UTARA DAN NEGARA

**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****


MEDAN - Pimpinan DPRDSU menerima kunjungan audiensi Panitia Pesta Danau Toba Tahun 2010 di gedung dewan, Jalan Imam Bonjol Medan, Selasa. Dalam audiensi itu, dewan berharap Pesta Danau Toba 2010 mampu menjadi kebanggan bagi masyarakat di tingkat nasional khususnya Sumatera Utara.

Adapun pimpinan dewan yang menerima audiensi tersebut yakni,Ketua DPRDSU H. Saleh Bangun didampingi Wakil Ketua DPRDSU Ir Chaidir Rirtonga MM dan Ir H Kamaluddin Harahap MSi. Sedangkan Panitia Pesta danau Toba yang audiensi yakni Ketua Umum Parlindungan Purba SH, MM, didampingi Sekretaris Panitia Artur MD Batubara MSc dan Koordinator Sponsor Dewi Juwita Purba, serta panitia lainnya Jhon Lubis dan Unggul Tambunan.



Parlindungan Purba mengatakan, pihaknya akan menyelenggarakan pagelaran
acara pesta seni dan budaya tersebut di Parapat Sumatera Utara dari tanggal 20 hingga 24 Oktober 2010.

“Tujuan penyelenggraan acara ini untuk mempromosikan dan menggairahkan kepariwisataan Indonesia khususnya Sumatera Utara. Hal ini dalam upaya meingkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara maupun nusantara dan memacu perkembangan perekonomian daerah,” katanya.

Jadi, kata dia, Pesta Danau Toba ini tentu tidak sekedar mengefektifkan seni, budaya serta unsure pariwisata lainnya. Tapi bertujuan lebih luas sehingga dukungan dari DPRD Sumut tentu sangat dibutuhkan dalam kerangka keberhasilan kegiatan tersebut.

Sementara Ketua DPRDSU Saleh Bangun mengatakan mendukung penuh kegiatan Pesat Danau Toba.

"Menjadi harapan pula kepada panitia agar benar-benar menjalankan tugas dengan professional sehingga kegiatan itu bisa mencapai tujuan dan sasarannya.Sehingga kegiatan tersebut bisa menjadi kebanggan Sumatera Utara dan secara umum Negara kita,” katanya.

Saleh juga mengatakan, segala kebutuhan panitia akan diteruskan ke komisi terkait di DPRD Sumut, sehingga dukungan Dewan bisa lebih proporsional.DPRD Sumut juga akan berkoordinasi dengan Instansi terkait di jajaran Pemprovsu agar kegiatan Pesta Danau Toba ini berjalan lancer. SUMBER INFORMASI




ShareSign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Danau Toba sebagai “ Sijujung Baringin “ Pariwisata Sumut, Butuhkan Ketegasan Pemprovsu

**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****


Kadis Pariwisata dan Budaya Kabupaten Simalungun Karsel Sitanggang, Rabu (2/6) mengatakan, secara makro Danau Toba adalah “ Sijujung Baringin “ atau Flag Ship pariwisata Sumut, sehingga dibutuhkan ketegasan dan kebijakan Pemprovsu dalam pengelolaannya untuk mampu berkibar setara dengan DTW Nasional di tingkat internasional.
Disebut “Sijujung Baringin” karena Danau Toba merupakan salah satu yang utama ditawarkan mempertahankan eksistensi pariwisata di Sumatera Utara. Dan, bendera ini akan dapat berkibar apabila mendapat penanganan khusus secara profesional dan proporsional.
Sebagai produk pariwisata andalan di Sumatera Utara, pembangunan dan pengembangan kawasan Danau Toba, kata Karsel, perlu ketegasan/kebijakan Pemprovsu mengalokasikan anggaran menangani pembenahan dalam bidang produk, pemasaran, kerja sama masyarakat dan pengaturan.
Bidang produk, di dalamnya meliputi penataan obyek wisata menambah keindahan panorama alami sehingga menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Pembenahan sarana–prasarana sangat diperlukan disesuaikan dengan standar kebutuhan wisatawan mancanegara. Jalan raya perlu mendapat perbaikan memberikan kemudahan akses dan kenyamanan selama perjalanan menuju lokasi Danau Toba. Akomodasi (perhotelan) dan restoran perlu ditangani secara profesional meningkatkan pelayanan dan kenyamanan bagi pengunjung.
Bidang pemasaran, kawasan Danau Toba serta seluruh kegiatan lokal merupakan satu kesatuan utuh yang harus ditangani secara menyeluruh. Dalam hal ini mengalokasikan anggaran promosi secara utuh, tidak terpenggal–penggal atas kegiatan budaya satu daerah tertentu.
Misalnya, kegiatan PDT ( Pesta Danau Toba ) diisi dengan seni budaya tradisional 7 daerah merupakan bagian kecil dari konsep pengembangan pemasaran kepariwisataan Danau Toba. Pemprovsu hendaknya dengan sungguh–sungguh mempromosikan dan “menjual” PDT di pasar pariwisata internasional.
Bidang kerja sama, perlu dipikirkan pembinaan kesiapan peran serta masyarakat menciptakan suasana kondusif, memberikan kenyamanan dan kebetahan bagi pengunjung. Sedangkan, bagi pelaku bisnis pariwisata diberikan berbagai kemudahan yang muaranya menjamin kualitas pelayanan tidak pernah mengecewakan para wisatawan.
Bidang pengaturan, untuk menentukan arah tujuan pembangunan dan pengembangan kawasan Danau Toba tepat sasaran diperlukan ketegasan keputusan atau peraturan yang dikeluarkan Pemprovsu menjadi acuan bagi daerah turut serta melakukan pembangunan yang sumber dananya ditampung di APBD masing–masing daerah bersangkutan.
Tanpa ketegasan peraturan membatasi berbagai aktvitas pada zona tertentu, Danau Toba dikhawatirkan dimanfaatkan menjadi kolam raksasa atau WC besar penampungan limbah sehingga berdampak buruk terhadap pariwisata Sumut.
Danau Toba berbatasan langsung dengan 7 daerah kabupaten masing–masing Kabupaten Simalungun, Tanah Karo, Samosir, Dairi, Tobasa, Taput dan Humbang Hasundutan. Namun, karena ketiadaan payung hukum sebagai acuan dalam menetapkan kebijakan, masing–masing daerah terkesan kurang peduli atau gamang membuat terobosan pembenahan kawasan Danau Toba.
“Danau Toba menyangkut kepentingan lintas 7 daerah kabupaten sehingga peranan Pemprovsu lebih dominan menentukan kebijakan arah pembangunan dan pengembangan kawasan Danau Toba yang sangat strategis dalam percepatan pembangunan ekonomi, jati diri dan kebanggaan masyarakat Sumut,” tandasnya.
Salah satu langkah mensukseskan program pembangunan kawasan Danau Toba yaitu mengemas paket PDT yang tetap dilaksanakan setiap tahun disertai dengan SK Gubsu.
Ketegasan Gubsu menerbitkan SK (Surat Keputusan) menjadikan PDT merupakan agenda pariwisata Sumut setiap tahun, lanjutnya dapat dijadikan payung hukum dan acuan mengusulkan anggaran di dalam APBD masing–masing daerah mendukung penyelenggaraan PDT tersebut.
Berdasarkan peraturan tentang penyelenggaraan PDT, panitia penyelenggara akan lebih mudah berkordinasi dengan masing–masing daerah yang terlibat langsung dengan kegiatan PDT dimaksud.
“Misalnya, suksesi PDT tahun 2010 ini daerah masih kaku. Pemkab Simalungun sendiri belum menerima petunjuk apa pun dari panitia penyelenggara. Namun, kami akan tetap berpartisipasi pada PDT nanti,” tandasnya. SUMBER INFORMASI




ShareSign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

SEBAGIAN BESAR OBJEK WISATA di Deli Serdang BELUM DIKELOLA DENGAN BAIK

**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****


temTidak kurang dari 38 objek wisata yang tersebar di 22 kecamatan di Deli Serdang saat ini menunggu pengelolaan yang optimal dari instansi terkait. Sebagian dari objek wisata itu sudah dikelola secara profesional, namun sebagian masih ditangani masyarakat secara swadaya dan sebagian lagi belum ditangani sama sekali.
Objek wisata yang ada di Deli Serdang terdiri dari berbagai objek wisata budaya seperti Pesta Rebu-Rebu di Gunung Meriah dan STM Hulu, Upacara Turun Bibit, Tabayun dan lainnya, Pusat kegiatan rohani seperti Retreat Centre di Sibolangit, Taman wisata Hutan di Sibolangit, pemandian alam seperti Sibiru-biru, Kasanova dan lainnya.
Kadis Pariwisata Deli Serdang melalui Kabidnya Dani Hapianto MSi kepada SIB mengatakan beberapa objek wisata sudah dikelola dengan baik dan profesional. Objek wisata itu seperti Retreat Centre Sibolangit, Sinar Bulan Purnama Ancol Indah di Pantai Labu, Hairos Indah di Pancur Batu, Water Park Suzuya di Tanjung Morawa, Hill Park Sibolangit dan lainnya.
Untuk objek wisata tersebut, pengelolaanya sudah profesional dan diusahakan oleh pihak ketiga. Di Hill Park, Hairos dan Sinar Bulan Purnama Ancol Pantai Labu misalnya sudah dibuat berbagai macam permainan anak. Kepada para pengunjung dibebankan tiket masuk, begitu juga untuk setiap permainan.
Sementara objek wisata yang dikelola oleh salah satu badan keagamaan seperti GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) adalah Retreat Centre di Desa Sukamakmur Kecamatan Sibolangit. Retreat Centre itu cukup banyak dipergunakan untuk pertemuan, kegiatan keagamaan, out bond dan berbagai kegiatan lainnya. Pengelolaannya sudah ditangani oleh orang-orang profesional sehingga banyak kalangan mempergunakan tempat tersebut untuk wisata rohani.
Pantauan SIB, terlihat masih banyak objek wisata yang belum bisa dikelola dengan baik dan hanya dikelola oleh masyarakat setempat dengan cara berjualan di sekitar lokasi. Contohnya Danau Linting yang belum disentuh secara profesional, padahal lokasi tersebut sangat bagus dijadikan objek wisata kebanggaan Deli Serdang. Selain itu objek wisata Sampuran Putih di Sibolangit juga belum tertata dengan baik sehingga belum banyak wisatawan yang berkunjung. Kalau dilihat dari segi alamnya, objek wisata itu sangat indah dan layak untuk dikunjungi.
Salah seorang pemerhati pariwisata di Deli Serdang Agus, mengatakan banyak sebenarnya objek wisata di Deli Serdang namun belum dikelola dengan baik sehingga tidak bisa diharapkan menambah PAD daerah setempat. Kalau ada keinginan untuk memperbaikinya, diyakini objek wisata tersebut akan menghasilkan PAD bagi Deli Serdang. Objek wisata yang bisa diandalkan hanya yang sudah dikelola dengan profesional dan itu lebih banyak menguntungkan pengusaha daripada pemerintah setempat, ujarnya.
Untuk itu diharapkan Deli Serdang bisa mengelola objek wisata yang ada di daerah tersebut untuk menambah PAD. Dari objek wisata yang baik penataannya akan mendatangkan pemasukan dari parkir, retibusi dan meningkatkan perekonomian warga sekitar. Agar hal itu dapat diwujudkan, diharapkan benar-benar ada perhatian Pemkab Deli Serdang untuk menata objek wisata dimaksud. (Desra Gurusinga/d)Danau Linting: Salah satu objek wisata di Deli Serdang adalah Danau Linting yang memiliki panorama indah. SUMBER INFORMASI




ShareSign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

15 March 2010

JUMLAH WISMAN SUMUT NAIK 9,24%


**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****




Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) Sumut pada Januari 2010 naik 9,24 persen dibandingkan pada Januari 2009 atau mencapai 14.067 orang.
“Jumlah itu diperkirakan terus naik khususnya pada Maret dan April karena ada Cheng Beng (ziarah kubure,red). Biasanya warga Malaysia dan Singapura yang memiliki leluhur di Medan akan datang berziarah ke Sumut,” kata Kepala BPS Sumut, Alimuddin Sidabalok, di Medan, Rabu.
Malaysia, kata dia, masih menjadi pemasok wisatawan terbesar ke Sumut disusul Singapura, Belanda, Amerika Serikat, dan Inggris.
Meski terbanyak masih dari Malaysia, peningkatan kunjungan pada Januari 2010 itu dipicu naiknya kedatangan wisatawan asal dari Belanda, Korea SElatan, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, dan Taiwan.
“Belanda diakui masih sangat menyukai berwisata ke Sumut. Mungkin karena ada historisnya yakni di zaman penjajajhan Belanda dahulu,” katanya.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumut, mengatakan, kunjungan wisman tren meningkat tetapi masih jauh dari yang diharapkan seperti di era tahun 1990-an.
“Selain karena isu negatif secara nasional, infrastruktur yang sangat tidak memadai di Sumut menjadi belum maksimalnya jumlah kunjungan wisman,” katanya.
Bahkan, kata dia, wisman lebih memilih berwisata ke Sumatera Barat sebelum ke Jawa ketimbang Sumut.
“Harusnya masalah infrastruktur itu menjadi perhatian pemerintah Sumut maupun daerah dimana objek wisata ada,” kata Solahuddin.SUMBER INFORMASI




Share

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

01 March 2010

INFORMASI KEPADA PECINTA DANAU TOBA


**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****




Mungkin bagi anda yang sangat mengagumi keindahan danau Toba dan dan peduli akan keindahannya dan juga ingin mengembalikan citra danau Toba anda bisa membarikan komentar pada postingan ini. Bila anda ingin menanyakan tentang apa saja dengan danau Toba, segera tulis pertanyaan anda berupa komen dipostingan anda dan beri alamat email anda untuk kami berikan jawaban dan informasi mengenai pertanyaan anda.
Bila anda ingin menjadi member SAVE LAKE TOBA, anda dapat mengikutinya melalui http://www.savelaketoba.org


Share

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

18 February 2010

KEDATANGAN WISATAWAN MANCANEGARA KE SUMATERA UTARA NAIK TUJUH PERSEN


**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****




Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sumut sepanjang 2009 naik 6,99 persen dari tahun 2008 atau mencapai 163.159 orang dengan dominasi kedatangan dari Malaysia. hingga 62,93 persen
Tahun 2008, kunjungan wisman ke Sumut masih 152.494 orang. Kenaikan kunjungan wisman itu menggembirakan ditengah kekhawatiran menurun akibat krisis global masih berlanjut,” kata Kepala BPS Sumut, Alimuddin Sidabalok, di Medan, Senin.
Kunjungan wisman terbesar tahun lalu masih tetap dari pintu masuk pelabuhan udara Bandara Polonia atau mencapai 148.193 orang, disusul dari Pelabuhan Laut Tanjung Balai/Asahan 9.891 orang dan Pelabuhan Belawan 5.075 orang.
Dia menjelaskan, pemasok wisatawan terbesar ke Sumut adalah Malaysia dengan jumlah 102.679 orang atau naik 21,68 persen dari kunjungan warga negara itu tahun 2008 yang masih 84.387 orang.
Selain Malaysia, wisatawan terbesar lainnya yang datang ke Sumut adalah dari Singapura sebanyak 10.361 orang, disusul Jerman 2.947 orang dan Australia 2.793 orang.
“Pada 2009, kunjungan wisman yang meningkat ke Sumut berasal dati Malaysia, Jerman, Singapura, Inggris,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Hj Nurlisa Ginting, mengatakan, meski belum mencapai target tahun 2009 sebanyak 175.000 orang, peraihan kedatangan 163.159 orang itu menggembirakan karena mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2008.
“Padahal tahun lalu masih krisis global dan sempat membuat kekhawatiran Pemprov Sumut terjadi penurunan kunjungan dibandingkan 2008 yang 152.494 orang,” katanya.
Untuk meningkatkan kunjungan wisman, Sumut tahun ini semakin aktif berpromosi termasuk ke China yang potensinya dinilai cukup besar untuk mengunjungi Sumut.
Tahun 2010 ini, kata dia, Pemprov Sumut menargetkan bisa mencapai wisman sebanyak 200.000 orang dengan perhitungan bahwa kunjungan dari sejumlah negara mulai Malaysia, Jerman, Inggris, Singapura bahkan termasuk China akan meningkat.SUMBER INFORMASI





Share

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

08 February 2010

UCAPAN TERIMAKASIH KEPADA MARSADA BAND


**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****




Salut kepada seluruh anggota MARSADA BAND. Saya tak henti-hentinya mengagumi band ini karena upaya mereka untuk mempromosikan tarian dan semua tentang batak ke tanah eropa. Saya juga sebagai pengagum batak, danau Toba dan sumatera utara sangat bangga sekali karena usaha mereka tidak sia-sia.



Berkat konser band ini di eropa, banyak orang-orang eropa tertarik akan danau toba dan khususnya batak. Saya heran sekali karena teman saya orang indonesia yang sedang pendidikan di eropa menceritakan bahwa temannya sangat ingin sekali mengetahui tentang batak dan danau Toba. Bahkan mereka juga sudah mengetahui MARSADA BAND lebih dulu dari teman saya ini.

Ini merupakan suatu kebanggaan bagi pemuda Batak dimanapun berada bahwa kesenian batak bukan satu hal yang memalukan untuk dipelajari dan juga bukan suatu hal yang ketinggalan zaman. kalau kita yakin kita mampu kita bisa membawa citra batak lebih tinggi lagi. Bukti nyata sudah ada dari para senior kita dari MARSADA BAND. sekali lagi saya mengucapkan terimakasih kepada MARSADA BAND dan saya juga akan menjadi pengagum anda.

NB: Bagi anda yang ingin menyaksikan marsada band beraksi di eropa anda dapat mendownload DI SINI

atau anda dapat mendownload pada "DOWNLOAD VIDEO BATAK".



Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

29 January 2010

CITRA DANAU TOBA POPULER DI NEGERI BELANDA TAPI TERABAIKAN DI NEGERI SENDIRI


**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****




‘GA NIET STERVEN VOOR DAT JE HET TOBA MEER HEB GEZIEN..’ Kalimat berbahasa Belanda itu ternyata masih rutin terdengar di negeri itu, khususnya dalam setiap berbagai forum atau pertemuan atau minimal wicara tentang pariwisata, terutama dalam setiap topic dan rencana perjalanan pelancongan ke Indonesia.
Arti kalimat itu adalah: “Jangan mati sebelum injak Danau Toba walau sekali sajapun….”
“Pesan itu akhirnya menjadi semacam semboyan yang masih terus dilontarkan kalau ada rencana paket kunjungan wisata ke Indonesia, khususnya dalam pilihan paket wisata ke Pulau Sumatera. Ada sejarah tersendiri yang membuat Danau Toba cukup popular di Belanda. Sehingga potret atau foto Danau Toba yang khas dengan gambaran pulau Samosir di atasnya, banyak diabaikan di rumah-rumah warga Belanda, walaupun foto itu cuma berupa guntingan dari brosur atau leaflet saja”, ujar Essie Gultom (40 tahun), seorang wanita cantik aktivis LSM asal Belanda yang beberapa tahun lalu sudah menjadi warga negara Indonesia setelah dipersunting pemuda Batak marga Lumbanraja.
Dia mengutarakan hal itu kepada pers di sela-sela diskusi khusus wacana pembentukan badan otorita Danau Toba, yang mengangkat topik dan pasal demi pasal dari draf Peraturan Presiden tentang Penataan Kawasan Wisata dan Lingkungan Danau Toba, yang disosialisasi melalui Badan Kordinasi Pelestarian Ekosistem Danau Toba (BKP-EDT) di kantor LSM Save The Tao, Medan, Jumat (15/1).
Hadir pada acara itu antara lain kordinator Forum Masyarakat Peduli Danau Toba (FM-PDT) Sumut Mangaliat Simarmata SH, konsultan pariwisata Ir Jonathan Ikuten Tarigan, Parlin Manihuruk, Ir Raya Timbul Manurung dari IMT-GT Sumut, Maranti Tobing dari PHRI Samosir, dll.
Salah satu pernyataan prihatin yang menjadi semacam resume diskusi itu adalah realita yang terasumsi sebagai tindak diskriminasi terhadap objek wisata Danau Toba selama ini. Soalnya, sejumlah negara luar ternyata hingga kini masih tetap menominasikan Danau Toba sebagai salah satu objek wisata pilihan mancanegaranya. Wajar kalau objek wisata andalan Sumut itu kemudian popular di sana. Sementara di sini, di negeri sendiri, Danau Toba dinilai banyak orang, termasuk kalangan pariwisata, sebagai objek primadona yang justru diabaikan, dan terabaikan…
TEKAD DALAM CITRA
Kalimat atau pesan,…’GA NIET STERVEN VOOR DAT JE HET TOBA MEER HEB GEZIEN..’ itu, sadar atau tidak, menunjukkan adanya suatu tekad yang perlu atau harus diwujudkan pada akhirnya, yaitu dengan realisasi mengunjungi Danau Toba sebelum (maaf…) ajal tiba. Kalau begitu, betapa hebatnya citra Canau Toba dengan marwah alami dan kisah historinya itu.
“Sejak umur empat tahun saya sudah dengar popularitas Danau Toba, dari para tetangga maupun dari orang-orang sekitar yang memang gemar pelesiran (melancong, piknik). Orang-orang bilang ‘jangan mati sebelum injak atau kunjungi Danau Toba, membuat saya penasaran 30 tahun lebih. Dan saya memang terkesima ketika bisa menyaksikannya sekarang. Indah luar biasa…dan hawanya sejuk, pantaslah digemari orang-orang Eropa setiap musim panas di sana (Belanda). Hanya saja, bayangan saya sedikit meleset karena tidak seramai yang saya bayangkan…”, ujar Essie, yang kini sudah resmi menjadi ‘Boru Gultom’, dan menjadi saudari (ito) Muchtar Pakpahan, tokoh buruh Indonesia itu.
Keinginan melihat langsung dengan mata kepala sendiri, Danau Toba yang disebutkan bagian dari tanah kelahirannya, plus gencarnya promosi keindahan objek wisata utama di pulau Sumatera itu sehingga semboyan atau motto masih dan ternyata terus populer di negerinya, menjadi alasan bagi Essie, pada akhir tahun 2004 lalu berangkat dari Belanda, menuju Indonesia. Hanya saja, mungkin tak perlu diungkap di sini, apakah Essie akhirnya menetap di Indonesia sembari menyandang salah satu marga Toba karena kekagumannya terhadap Danau Toba, atau karena akhirnya jatuh cinta dengan pemuda Toba bernama Sahat Lumbanraja.
Hal yang perlu diungkap adalah fakta pendukung bahwa Danau Toba hingga kini memang masih terus populer di Belanda, atau kawasan Eropa pada umumnya, plus di sejumlah negara lainnya. Mantan Direktur PT Avia Interlinear Tour & Travel yang sejak 1970-1990-an lalu aktif memandu kalangan wisatawan Eropa ke Sumut melalui berbagai paket wisata budaya dan ekorisme, mengakui apa yang dibilang Essie, bahwa nama Danau Toba…dan Berastagi di Tanah Karo … memang tak bisa lepas dari memori warga Belanda.
Ungkapan serupa juga dicetuskan Jonathan Ikuten Tarigan. Bahkan terkesan dengan nada ekstrim dan radikal dia bilang, pemerintah Indonesia mulai dari tingkat pusat hingga daerah (propinsi dan kabupaten-kabupaten di sekitar Danau Toba), jadi terkesan ‘tak tahu malu’ karena tampak membiarkan Danau Toba terabaikan begitu saja dinegeri sendiri, padahal dia diagung-agungkan secara populer di luar negeri.
“Citra Danau Toba sebagai salah satu situs dunia yang sekelas dengan objek wisata Yellowstone di Amerika Serikat itu, seharusnya menumbuhkan tekad kita agar Danau Toba ini tercatat resmi menjadi warisan dunia melalui divisi khusus di PBB, seperti Yellowstone itu. Ini sungguh ironis, kita (Danau Toba) sudah dapat status atau citra sebagai situs dunia, tapi kok tidak di-follow-up masuk registrasi. Seharusnya kita malu, Danau Toba itu seakan kita biarkan sebagai kubangan teronggok begitu saja, sehingga banyak orang bilang kini menjadi ‘jamban raksasa’ saja”, katanya prihatin.
Untuk ini, menurut anggota DPRD Sumut Sopar Siburian SH SpN dari komisi yang antara lain membidangi pariwisata, menegaskan perlunya kebijakan khusus dari pemerintah mulai tingkat pusat hingga daerah (propinsi dan lintas kabupaten) untuk menetapkan posisi Danau Toba sebagai objek wisata yang representatif di mata wisata dunia.
“Idealnya Danau Toba ini harus pula dijadikan sebagai profil gapura wisata Indonesia bagian barat. Proyeksi garis lurus menunjukkan Parapat atau Danau Toba ini bisa akses langsung ke negara-negara sumber wisatawan mancanegara, baik dari Eropa, Timur Tengah, apalagi Asia atau ASEAN. Kita memang sangat bangga karena Danau Toba lebih populer di luar negeri seperti Belanda dibanding di Indonesia sendiri”, katanya kepada SIB, setelah kembali dari perjalanan wisatanya ke Turki, belum lama ini.
Bahkan, disela-sela acara penandatanganan naskah kerja sama (MoU) tentang sistem reservasi online pariwisata IMT-GT antara Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumut dengan Standar Online Tourism Architecture (SOTA) Malaysia di Tiara Convention, Jumat petang (15/1) kemarin, Direktur Eksekutif BPPD Sumut Arthur Batubara MSc juga membenarkan dan menegaskan bahwa sejumlah tour operator asing di berbagai negara luar juga mencantumkan objek wisata Danau Toba sebagai salah satu destinasi pilihan, selain pulau Bali.
OTORIOTA DANAU TOBA, KAPAN…?
Konon, popularitas wisata Danau Toba di Belanda bermula dari kunjungan rombongan Ratu Wilhelmina pada tahun 1940-an silam. (Namun, belum diperoleh catatan atau data resmi apakah kunjungan itu berlangsung sebelum atau sesudah Agresi Belanda di Indonesia pada Desember 1948, yang antara lain mengakibatkan Presiden RI Soekarno saat itu diasingkan ke Parapat). Tapi, yang jelas, banyak pihak mengakui Danau Toba memang populer di Belanda hingga kini sehingga turis asal Belanda ke Sumut masih tetap mendominasi pelancong asing asal Eropa.
Itulah sebabnya, ujar Sopar sang putra Parlilitan Humbang Hasundutan, ingin agar Danau Toba kelak benar-benar ‘hidup’ dalam arti sebenarnya sebagai objek wisata yang bernilai ekonomi dari semua elemen potensinya, baik potensi budaya, potensi sejarah, potensi lingkungan hidup, potensi bahan dsb yang terkandung alami dan abadi para objek wisata Danau Toba. Apalah melalui konsep kebijakan otorita, atau sistem semacamnya.
Salah satu konsepnya, menurut Sopar, adalah penataan dan pengelolaan objek-objek instrumental lintas Danau Toba oleh daerah masing-masing. Misalnya, daerah Humbang menata dan menjual objek wisata Danau Toba yang ada di bagian atau kawasan Sipinsur (10 kilometer dari Lintong Nihuta), yang panoramanya luar biasa karena bisa menatap sebagian besar kawasan pantai Danau Toba dari ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut, plus sambil rileks main layang-layang atau menikmati penganan hangat khas Batak seperti ombus-ombus atau jagung bakar di bukit itu.
Lalu, Samosir bisa menata dan menjual pantai Tomoknya sebagai dermaga halte wisata, atau Onan Runggu sebagai objek panorama ujung pulau Samosir. Sehingga Samosir tak hanya dikenal dengan Pantai Tomok atau Tuktuk dan Simanindo serta Pangururannya saja. Simalungun mungkin bisa ekspansi menjual Bukit Simarjarunjung atau Bukit Tanjung Unta yang dulu pernah dicanangkan Bupati Djabanten Damanik sebagai ‘ring road-nya’ wisata Danau Toba di Simalungun selain Parapatnya. Tapanuli Utara bisa kembangkan Pantai Muara sebagai pusat wisata tirta misalnya untuk lomba speed boat kelas internasional. Tobasa secara khusus kembangkan potensi Bandara Sibisa sebagai distribution of point (dop) para turis dari manapun yang akan ke Danau Toba, selain upaya pengembangan Pantai Binanga Lom atau Pasar Tradisionil di Pantai Ajibata. Lalu, Dairi bisa kembangkan objek wisata Silalahi di Paropo sebagai pusat penikmatan ikan pora-pora yang nyaris punah, plus Tanah Karo bisa kembangkan objek wisata Tongging menjadi pusat wisata ketangkasan olahraga udara, misalnya terbang layang (gantole), lompat tebing (bungy), dsb sehingga tak hanya sebagai objek panorama saja seperti selama ini.
Hal senada juga disebutkan Mangaliat Simarmata, bahwa konsep penataan wisata secara intrumental lintas daerah itu hanya bisa diwujudkan melalui kebijakan otorita. Paling tidak, hal itu akan menghindari tradisi buang badan atau lepas tangan dari setiap kepala daerah kawasan Danau Toba, dengan masing-masing dalih atau alasan sektoralnya, seperti yang terjadi selama ini.
“Kita sempat semangat, ketika beberapa tahun lalu sudah muncul semangat untuk membentuk badan atau kebijakan otoritas untuk pembangunan wisata Danau Toba itu. Tapi sekaligus saya pun sedih karena potensi dan prospek Danau Toba masih begini-begini saja terus, apalagi pemerintah kita, mulai dari tingkat pusat sampai propinsi dan kabupaten, selama ini cuma bisa janji-janji sehingga turis yang datang segitu-segitu saja terus…Niat dan semangat itu tidak dibarengi tekad, sehingga kita tak tahu, kapan otorita Danau Toba itu terwujud”, papar Mangaliat dengan nada prihatin, sembari nyaris menangis di hadapan 60-an peserta rapat dan diskusi ‘Save the Tao’, belum lama ini.SUMBER INFORMASI



Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

02 January 2010

DANAU TOBA MENJADI TUJUAN WISATA FAVORIT MASYRAKAT SUMATERA UTARA


**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****




Danau Toba yang indah menjadi tujuan wisata favorit masyrakat Sumatera Utara. Sudah barang tentu mengapa danau Toba menjadi tujuan utama masyarakat Sumatera Utara. Saya sangat terharu sekali mendengar informasi tersebut, karena saya merupakan salah seorang pengagum dan juga pendukung kemajua pariwisata danau Toba.

Bahkan saya juga mendapatkan Informasi dari telivisi nasional kita yang menyatakan bahwa danau Toba menjadi tujuan utama masyarakat sumatera utara. Saya sangat yakin bagi mereka yang datang ke danau Toba tidak akan menyesal datang berwisata ke danau Toba. Saya hanya mau mengucapkan Terima kasih kepada semua wisatawan yang telah datang berkunjung danau Toba pada liburan tahun baru 2010.

Semoga pariwisata danau Toba dan pariwisata Sumatera Utara lainnya dapat berkembang lebih maju. Tetap dukung yang wisata alam danau Toba. Horas...! Tuhan Menyertai Kita Semua...!



Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.