---- SAVE TOBA LAKE ---- HORAS ---- MEJUAH - JUAH ---- NJUAH - JUAH ---- YA'AHOWU ---- SELAMAT DATANG DI BLOG WISATA ALAM DANAU TOBA ---- Dalam hari bumi sedunia, ayo lindungi bumi kita dari bahaya yang mengancamnya. Mari kita bersama - sama untuk menanam pohon, cegah efek rumah kaca, stop pembalakan liar, hemat energi bumi, stop pembuangan limbah ke dalam aliran sungai. Selamatkan bumi kita dari pemanasan global ---- Ayo saudaraku, dukung terus pariwisata Sumatera Utara. Mari berperan dalam mempromosikan wisata danau Toba dan wisata lainnya yang ada di Sumatera Utara ---- jika anda pingin tukeran link,silahkan add duluan link aku.Lalu konfirmasi melalui shoutmix di blog ini.Nanti akan saya add balik link anda.Terimahkasih sebelumnya ---- Bila anda ingin berkunjung ketempat objek wisata alam danau TOBA dan sekitarnya namun anda tidak mempunyai sanak-saudara di sumatera utara untuk tempat anda singgahi, saya dapat membantu anda untuk mencari penginapan sesuai dengan badget anda dan orang yang bisa memandu anda di sana nantinya, hubungi saya melalui email : renato.bastian45@gmail.com ---- Bagi anda yang ingin dibantu dalam mengiklankan produknya di blog ini, segera hubungi saya di email : renato.bastian45@gmail.com, saya akan bantu anda untuk mengiklankan produk anda di blog ini seperti iklan yang ada pada blog ini. Bagi saudara-saudaraku yang berasal dari tano bona pasogit, bila anda mempunyai informasi terbaru tentang seputar danau toba dan objek wisata yang lain di sumatera utara, segera kirimkan informasi anda melalui email : renato.bastian45@gmail.com, informasi anda sangat dibutuhkan dalam mempromosikan pariwisata sumatera utara. ---- SAVE TOBA LAKE ----

10 November 2010

KADIS PARIWISATA SIMALUNGUN DUKUNG PENGEMBANGAN OBYEK WISATA DANAU TOBA

**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****

Dalam rangka peningkatan pengembangan obyek wisata Danau Toba,Kabupaten Samosir, Tobasa, Simalungun, Karo, Dairi, Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbahas harus berbenah diri terutama Kepala Dinas Pariwisatanya. Masing-masing Kadis Pariwisata Kabupaten tersebut harus membuat program untuk peningkatan wisata dengan “menjual Danau Toba”. Demikian Drs Karsel Sitanggang, Kadis Parawisata Kabupaten Simalungun ketika dihubungin SIB, Jumat lalu.
Menurut, Karsel Sitanggang,dia sudah membuat proposal sebelumnya dan sudah diajukan ke provinsi, untuk peningkatan kunjungan wisatawan di kawasan Danau Toba Kabupaten Simalungun antara lain Haranggaol,Tigarunggu,Dolok Simarjarunjung,Tanjung Unta, Sipolha, dan Parapat.
Daerah tersebut dikunjungi wisatawan yang datang dari Medan menuju Tapanuli terus ke Sibolga dan Nias,tambah Drs Karsel Sitanggang. Khusus di Simalungun,kota kecil Haranggaol terletak di teluk indah tempat mengginap. Tidak jauh dari Haranggaol, ada bangunan rumah peninggalan raja-raja Simalungun di Rumah Balon Tigarunggu yang disenangi wisatawan.
Selain itu, tempat istirahat wisatawan yang kelelahan dari Medan menuju Parapat adalah Dolok Simarjarunjung bukit indah yang diseberangnya tampak Pulau Samosir. Selanjutnya Tanjung Unta yang seperti untas tidur di Danau Toba dan tempat membaca buku di restaurant berbentuk ikan mas di Sipolha,ini sudah kita usulkan segera dibenahi oleh pemerintah daerah kabupaten, provinsi yang dibantu pemerintah pusat,” imbuh Drs Karsel Sitanggang.SUMBER INFORMASI




ShareSign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

SARASEHAN MASA DEPAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NIAS, KEINDAHAN NIAS TIDAK KALAH MENARIK DAN INDAH DIBANDINGKAN PULAU DEWATA

**** HORAS **** MEJUAH - JUAH **** NJUAH - JUAH **** YA'AHOWU ****


Arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, Ketut Wiradnyana menilai, keindahan kepulauan Nias tidak kalah jauh dari Pulau Dewata Bali. Jika Nias dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin dapat menandingi Bali . “Budaya dan Pariwisata Nias tidak kalah dengan Bali,” kata Ketut Wiradnyana saat tampil sebagai pembicara pada sarasehan “Masa Depan Kebudayaan dan Pariwisata Nias” di Omo Bale Museum Pusaka Nias (YPN) Gunungsitoli, Sabtu (23/10).
Sarasehan yang diselenggarakan lembaga Futi Rai Ana’a (Furai) tersebut dihadiri sejumlah pejabat di antaranya Kadis Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Kota Gunungsitoli Yulianus Harefa Med Tesol, Kadis Perhubungan Pariwisata dan Komunikasi Informasi Nias Barat Aliziduhu Daeli SPd, Kadis Pariwisata Nias Selatan diwakili Pikiran Nehe, Penulis Kebudayaan Nias Pastor Yohanes Maria Hammerle OFM Cap, seniman muda Nias O’o Zebua, Hikayat Manao dan Dasa Manao, pengelola hotel Dian Otomasi Mario Otomasi Zebua serta para pelaku budaya dan pariwisata dan pihak terkait lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya sejak tahun 1995 hingga 2007 lanjut Ketut, Nias sudah dihuni sejak 12 ribu tahun lalu. Nenek moyang orang Nias diyakini berasal dari Asia Bagian Tengah atau Vietnam Tengah. Mereka berimigrasi dan beudaya paleolitik, yakni masa kebudayaan awal manusia.
Setelah 12 ribu tahun, kebudayaan tersebut berubah menjadi budaya Hoa Binh yakni meninggalkan hidup nomaden untuk menetap di lembah serta goa-goa dan tempat penampungan batu dekat air sungai. Mereka kemudian terus berkembang hingga tahun 1500 Masehi. Saat itu Sumatera Daratan sudah mengenal kerajaan. “Peninggalan nenek moyang orang Nias tersebutlah ditemukannya di dua goa yakni Goa Togi Ndrawa dan Goa Togi Mbogi, Nias,” ujarnya.
Dari temuan penelitian itu katanya, dapat dijadikan dasar bagi Pemkab/Pemko di Kepulauan Nias untuk mengembangkan budaya dan meningkatkan sektor pariwisata. Ia merasa yakin basah banyak peninggalan zaman dahulu di Nias yang dapat dijadikan daya tarik pariwisata, baik lokal maupun mancanegara.
Sementara, Yulianus Harefa mengatakan, pemerintah masih belum optimal dalam pengembangan budaya dan pariwisata Nias. Hal itu dikarenakan terbentur masalah anggaran Pemko Gunungsitoli terhadap instansinya untuk konsern terhadap budaya dan pariwisata yang hanya sebesar Rp 900 juta.
Padahal untuk peningkatan objek wisata yang tidak sedikit di Gunugsitoli membutuhkan anggaran yang besar. Sejumlah lokasi yang dapat dijadikan objek wisata di antaranya Goa Katawaena (disebut juga Goa Layang-layang) yang di dalamnya terdapat artefak peninggalan zaman dahulu. Selanjutnya Goa Togi Ndrawa yang diperkirakan berumur 7000 tahun. Goa di Jepang dipuncak Laverna Desa Labuhan Angin Kecamatan Gunungsitoli Barat. Di dalam goa tersebut banyak terdapat kuburan Jepang pada masa penjajahan dahulu yang dapat menarik minat wisata Jepang. Selain itu ada juga Goa Lawomaru yang ada cerita rakyat tentang masyarakat Nias, Goa So’arowiga berbentuk piring terbalik ditemukan sekira 2 tahun lalu. Sedangkan objek wisata pantai ada 10 lokasi diantaranya Pantai Malaga, Maria, Nusa Lima Laraga, Fodo, Bunda, Miga, Carita, Muara Indah dan Pantai Hoya.
Ketua Umum Lembaga FURAI, Aliozisokhi Fau menjelaskan, penyelenggaraan sarasehan itu diharapkan dapat memberikan suatu perubahan yang lebih baik bagi Kepulauan Nias ke depan. Ia menilai, dengan hasil sarasehan tersebut, lembaga Furai yang dipimpinnya akan terus berusaha untuk fokus terhadap kemajuan kebudayaan dan pariwisata Nias yang lebih baik lagi. Terlebih lagi, hasil sarasehan tersebut dapat dijadikan cikal bakal dan sebagai promosi Nias. “Sarasehan ini sebagai bentuk promosi budaya dan pariwisata Nias,” ujarnya dalam sambutan pembukaan sarasehan tersebut.
Kebudayaan dan pariwisata Nias lanjutnya memiliki potensi besar yang belum tergali dan menjadi tugas pemerintah dan masyarakat untuk lebih berperan aktif dalam pengembangan budaya dan pariwisata Nias. katanya. Mantan anggota DPRD Sumut ini menambahkan, pihaknya telah mengundang seluruh calon kepala daerah di kepulauan itu, namun tidak satupun yang hadir. Pada hal menurutnya, Furai ingin mengetahui sejauh mana program mereka tentang budaya dan pariwisata Nias nantinya. Bahkan jika ada calon yang menetapkan visi-nya “Menjadikan daerahnya menjadi dDerah Budaya dan Pariwisata “ adalah suatu hal yang luar biasa, atau minimal budaya dan pariwisata Nias menjadi salah satu skala prioritas pembangunan Nias.
Dalam kesempatan itu ia berharap para pemuda/i Nias sebagai generasi penerus lebih aktif dan peduli lagi terhadap kemajuan daerah Nias yang saat ini terdiri dari 1 kota dan 4 kabupaten. “Saya yakin, ke depannya Nias akan menjadi lebih maju lagi dan lebih dikenal, jika putra dan putri daerah mengelolanya sendiri dengan dasar dan pengetahuan yang ada,” pungkasnya.
Oleh karenanya, pemerintah di Nias katanya harus menyiapkan para pengelola budaya dan pariwisata Nias yang handal dengan cara mengirimkan putra-putra Nias menggeluti bidang pendidikan tersebut atau membuka sekolah itu di Nias serti jurusan antropologi, sekolah musik, tari, theater dan pariwisata dengan mendatangkan para guru-guru dari luar daerah. (Rel/M-14/ r)

Berfoto bersama: Arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, Ketut Wiradnyana berfoto bersama dengan Ketua Umum Lembara Furai Aliozisokhi Fau Spd, Budayawan, Hikayat Manao, Pikiran Nehe mewakili Kadis Pariwisata Nisel), Pastor Yohannes Maria Hummerle, Kadis Pariwisata Pemuda dan Olahraga Gunungsitoli Yulianus Harefa, Kadis Perhubungan Pariwisata dan Komunikasi Informasi Nias Barat Aliziduhu Daeli SPd pada acara Sarasehan Masa Depan Kebudayaan dan Pariwisata Nias, Sabtu (23/10) di Gunungsitoli.SUMBER INFORMASI




ShareSign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.